SandeKennedy – Pemerintah China akan melarang penggunaan gagang pintu mobil rata dan bertenaga listrik mulai 2027. Melansir Carscoops, Jumat (21/1/2026), kebijakan ini muncul setelah meningkatnya kecelakaan fatal yang menyulitkan evakuasi penumpang. Dalam beberapa kasus, penumpang dan petugas darurat tidak dapat membuka pintu mobil usai tabrakan. Situasi tersebut terjadi karena gagang pintu elektrik gagal berfungsi saat pasokan listrik terputus. Pemerintah menilai desain tersebut berisiko tinggi bagi keselamatan manusia.
“Baca Juga: Mercedes-Benz Recall Mobil Listrik, Atur Batas Ngecas 80 Persen”
Larangan ini akan berlaku untuk seluruh kendaraan penumpang dengan bobot di bawah 3,5 ton. Produsen wajib memastikan pintu tetap bisa dibuka dalam kondisi darurat. Dengan aturan baru ini, keselamatan menjadi prioritas utama dibandingkan aspek desain atau aerodinamika.
Aturan Baru Wajibkan Mekanisme Pelepasan Manual
Peraturan terbaru mewajibkan semua kendaraan memiliki gagang pintu interior dan eksterior dengan pelepasan mekanis. Fungsi mekanis ini harus tetap bekerja meski kendaraan mengalami kerusakan parah. Pemerintah ingin memastikan pintu mobil dapat dibuka tanpa bantuan daya listrik. Indikasi perubahan kebijakan ini sudah muncul sejak pertengahan Desember lalu.
Saat itu, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China memasukkan aturan tersebut dalam rancangan regulasi baru. Aturan ini dirancang khusus untuk mengantisipasi risiko pada kendaraan listrik modern. Banyak mobil listrik mengandalkan sistem elektronik penuh untuk membuka pintu. Ketergantungan tersebut dianggap berbahaya dalam situasi darurat.
Desain Gagang Pintu Rata Dinilai Berisiko
Gagang pintu elektrik yang dapat ditarik telah menjadi ciri khas desain mobil listrik modern. Model seperti Tesla Model S, Tesla Model 3, Tesla Model Y, dan BYD Seal mengusung desain ini. Produsen mempromosikannya sebagai solusi aerodinamis yang meningkatkan efisiensi. Namun, manfaat tersebut dinilai tidak sebanding dengan risiko keselamatan.
Sejak 2024, keluhan terhadap gagang pintu jenis ini terus meningkat. Banyak pengguna melaporkan gagang pintu sulit digunakan setelah kecelakaan. Masalah juga muncul saat cuaca dingin ekstrem. Mekanisme elektrik sering gagal merespons dalam kondisi tersebut. Akibatnya, penumpang terjebak di dalam kendaraan lebih lama.
Rentetan Kecelakaan Fatal Picu Regulasi Ketat
Beberapa kecelakaan besar menjadi pemicu utama larangan ini. Pada 13 Oktober, seorang penumpang meninggal di Chengdu karena pintu mobil tidak dapat dibuka. Saksi di lokasi tidak berhasil mengakses kabin kendaraan. Insiden lain terjadi di Tongling, yang menewaskan tiga orang. Laporan Sixth Tone menyebut kedua kecelakaan tersebut melibatkan Xiaomi SU7 Ultra.
Sumber internal menjelaskan bahwa pintu mobil tersebut menggunakan tombol elektrik di bagian dalam. Setelah daya mati, sistem tidak bisa berfungsi. Gagang pintu mekanis internal sulit ditemukan oleh penumpang. Bahkan petugas penyelamat kesulitan menjangkaunya meski sudah memecahkan kaca jendela. Kondisi ini memperlambat proses evakuasi secara signifikan.
“Baca Juga: ASUS Konfirmasi Tidak Rilis Smartphone Baru di 2026″
Dampak Global bagi Industri Otomotif
Larangan di China diperkirakan berdampak luas secara global. China kini menjadi eksportir mobil terbesar di dunia, melampaui Jepang. Produsen domestik yang mematuhi aturan baru kemungkinan menerapkan desain serupa pada model ekspor. Langkah ini dilakukan untuk efisiensi produksi dan kepatuhan regulasi.
Produsen Barat yang menjual mobil di China juga menghadapi tekanan serupa. Mereka kemungkinan menyesuaikan desain global agar sesuai standar China. Dari sisi teknis, keuntungan aerodinamika gagang pintu rata tergolong kecil. Pengurangan hambatan hanya sekitar 0,005 hingga 0,01 koefisien drag. Dampaknya setara penghematan sekitar 0,6 kWh per 100 kilometer.
Dengan aturan ini, industri otomotif dipaksa meninjau ulang prioritas desain. Keselamatan penumpang kembali menjadi faktor utama. Regulasi China berpotensi membentuk standar baru kendaraan global di masa depan.




Leave a Reply