SandeKennedy – Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin resmi mengundurkan diri dari jabatannya sekitar dua tahun sebelum masa baktinya berakhir pada April 2028. Keputusan tersebut diambil dengan alasan kondisi kesehatan yang tidak lagi memungkinkan dirinya menjalankan tugas sebagai kepala negara.
Pengunduran diri Shahabuddin terjadi di tengah dinamika politik yang masih berlangsung di Bangladesh. Meski jabatan presiden di negara tersebut sebagian besar bersifat seremonial, pergantian kepala negara tetap memiliki arti penting dalam situasi politik saat ini.
“Baca Juga: Presiden Palestina Minta Dunia Hentikan Serangan Israel”
Sesuai ketentuan yang berlaku, Ketua Parlemen Nasional, Hafiz Uddin Ahmad, akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga parlemen memilih pengganti Shahabuddin.
Shahabuddin Mundur karena Mengalami Gangguan Kesehatan
Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmad mengonfirmasi pengunduran diri tersebut dalam konferensi pers pada Jumat malam. Ia menjelaskan bahwa surat pengunduran diri telah diterima secara resmi dari Mohammed Shahabuddin.
Dalam surat tersebut, Shahabuddin menyatakan dirinya mengalami sejumlah masalah kesehatan. Ia mengungkapkan telah didiagnosis menderita neuropati otonom atau autonomic neuropathy.
Menurut penjelasannya, penyakit tersebut menyebabkan dirinya sesekali kehilangan kesadaran dalam waktu singkat. Kondisi itu dinilai menghambat kemampuannya menjalankan tanggung jawab konstitusional sebagai presiden.
Laporan media setempat juga menyebut Shahabuddin menjalani perawatan selama dua hari di Combined Military Hospital sebelum mengumumkan pengunduran dirinya.
Pengunduran Diri Terjadi di Tengah Situasi Politik yang Sensitif
Mohammed Shahabuddin berusia 76 tahun ketika memutuskan mengakhiri masa jabatannya lebih awal. Ia mulai menjabat sebagai Presiden Bangladesh pada April 2023 setelah terpilih tanpa lawan sebagai kandidat dari Partai Awami League yang dipimpin Sheikh Hasina.
Keputusan tersebut muncul di tengah situasi politik yang masih berkembang setelah perubahan pemerintahan pada 2024. Shahabuddin tetap menjabat sebagai presiden ketika Sheikh Hasina meninggalkan Bangladesh menuju India setelah pergolakan politik yang menggulingkan pemerintahannya.
Selama masa transisi tersebut, Shahabuddin menjalankan tugas kepala negara ketika pemerintahan sementara dipimpin oleh peraih Nobel Muhammad Yunus. Setelah itu, Bangladesh menggelar pemilihan umum pada Februari 2026 yang menghasilkan pemerintahan baru di bawah Perdana Menteri Tarique Rahman.
Partai Awami League milik Sheikh Hasina tidak diizinkan mengikuti pemilu tersebut setelah sebelumnya dilarang berpartisipasi dalam proses politik.
Sheikh Hasina Berencana Pulang ke Bangladesh pada Desember
Pengunduran diri Shahabuddin juga terjadi beberapa waktu setelah mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina mengumumkan rencana kembali ke Bangladesh pada Desember mendatang. Ia menyatakan akan kembali dari pengasingannya di India untuk menyerahkan diri kepada otoritas setempat.
Sebelumnya, pada November 2025, pengadilan Bangladesh menjatuhkan hukuman mati secara in absentia kepada Hasina atas perannya dalam penindakan terhadap demonstrasi yang berujung pada kejatuhan pemerintahannya. Hasina membantah tuduhan tersebut.
Rencana kepulangan Hasina dinilai meningkatkan sensitivitas politik di Bangladesh. Shahabuddin sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki hubungan lama dengan mantan perdana menteri tersebut.
“Baca Juga: Acer Predator Atlas 8 Meluncur dengan Harga Fantastis”
Laporan Sebut Pemerintah Baru Memberikan Tekanan Politik
Selain alasan kesehatan, sejumlah laporan menyebut terdapat tekanan politik yang mendorong Shahabuddin mengundurkan diri. Reuters, mengutip beberapa sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, melaporkan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Tarique Rahman meminta Shahabuddin mundur karena kedekatannya dengan Sheikh Hasina.
Meski demikian, dalam surat resminya Shahabuddin hanya menyebut kondisi kesehatan sebagai alasan pengunduran dirinya. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Bangladesh yang mengaitkan keputusan tersebut dengan tekanan politik.
Dengan pengunduran diri Shahabuddin, Bangladesh kini memasuki masa transisi kepemimpinan di tingkat kepala negara. Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmad akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga parlemen memilih presiden baru sesuai mekanisme konstitusi. Pergantian ini berlangsung di tengah dinamika politik nasional yang masih dipengaruhi perubahan pemerintahan, proses hukum terhadap Sheikh Hasina, serta persiapan menjelang rencana kepulangannya ke Bangladesh pada akhir tahun.




Leave a Reply