SandeKennedy – Game Anthem yang dirilis pada 2019 menjadi salah satu proyek ambisius dari BioWare. Game ini mengusung konsep shooter dengan setelan mech yang dapat melayang ala Iron Man. Anthem juga dibangun sebagai game live-service dengan fokus permainan kooperatif. Saat pertama kali diperkenalkan, presentasinya terlihat sangat menjanjikan. Ide gameplay dan visualnya berhasil menarik perhatian publik. Namun, ketika resmi diluncurkan, respons pasar cenderung biasa saja. Jumlah pemainnya pun menurun cukup cepat. Setelah beberapa tahun berjalan, BioWare akhirnya resmi menutup Anthem. Penutupan ini memicu kekecewaan komunitas pemain. Banyak penggemar berharap game tersebut suatu hari bisa dihidupkan kembali.
“Baca Juga: Elon Musk Klaim AI Akan Gantikan Pendidikan Kedokteran”
Mantan Produser BioWare Ungkap Biaya Reboot Anthem
Harapan tersebut kembali mencuat setelah pernyataan dari Mike Darrah. Mantan produser BioWare itu membahas masa depan Anthem melalui video di kanal YouTube pribadinya. Video tersebut berjudul “The Truth About What Happened on Anthem”. Dalam video itu, Darrah memaparkan pandangannya secara terbuka. Ia menjelaskan bahwa kebangkitan Anthem bukan hal mustahil. Namun, upaya tersebut membutuhkan dana besar. Darrah memperkirakan biaya yang dibutuhkan mencapai 10 juta dolar Amerika. Angka tersebut dinilai sebagai minimum untuk melakukan reboot yang layak. Reboot ini diusulkan dalam bentuk game single-player.
Rencana Tiga Tahap untuk Menghidupkan Kembali Anthem
Menurut Darrah, ada tiga tahap utama dalam rencana reboot tersebut. Tahap pertama berfokus pada peningkatan fondasi teknis. Anthem perlu disesuaikan dengan platform generasi terbaru. Targetnya adalah konsol seperti PlayStation 5 dan Nintendo Switch 2. Game diharapkan dapat berjalan stabil di 60 frame per detik. Kualitas visual juga perlu ditingkatkan secara signifikan. Tahap ini penting agar Anthem relevan dengan standar modern. Tanpa pembaruan teknis, reboot dinilai tidak akan menarik.
Mode Offline dan AI Rekan Tim Jadi Kunci
Tahap kedua menyangkut perubahan struktur permainan. Darrah mengungkap fakta menarik dari masa pengembangan Anthem. Tim internal BioWare pernah memiliki kode server lokal. Hal ini berarti mode offline sebenarnya memungkinkan. Mode tersebut bisa diwujudkan tanpa ketergantungan penuh pada server eksternal. Tahap ketiga adalah yang paling mahal dan kompleks. Darrah menyarankan penggunaan rekan satu tim berbasis AI. Sistem ini akan menggantikan kebutuhan bermain empat orang secara online. Dengan AI, pengalaman solo tetap terasa lengkap. Pendekatan ini juga menghilangkan ketergantungan pada model live-service.
Fokus Baru pada RPG Single-Player dan Cerita
Lebih dari sekadar perbaikan teknis, Darrah melihat reboot ini sebagai perubahan arah besar. Anthem sejak awal diharapkan menjadi RPG single-player yang kuat. Banyak pemain menginginkan cerita mendalam dan karakter yang berkesan. Dalam rencana reboot, fokus grinding akan dikurangi. Penekanan akan dialihkan ke narasi dan pengembangan karakter. Hubungan antar anggota tim juga diharapkan terasa lebih personal. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai dengan kekuatan BioWare. Darrah percaya perubahan arah ini bisa menyelamatkan identitas Anthem.
“Baca Juga: iQOO Z11 Turbo Resmi, Bawa Snapdragon 8 Gen 5″
Kritik terhadap Publisher dan Gerakan Stop Killing Games
Dalam video tersebut, Darrah juga menyinggung isu yang lebih luas. Ia mendukung gerakan Stop Killing Games. Menurutnya, publisher memiliki tanggung jawab moral terhadap game yang dirilis. Game seharusnya tetap bisa dimainkan dalam bentuk tertentu. Ia mengkritik praktik mematikan game sepenuhnya. Meski demikian, Darrah menyadari peluang rencana ini dijalankan kecil. Ia menyebut Electronic Arts kemungkinan besar tidak akan mengeksekusinya. Namun, Darrah tetap optimistis terhadap satu hal. Ia percaya peluang terbaik Anthem untuk tetap hidup adalah kembali ke visi awal. Visi tersebut adalah game RPG yang diinginkan pemain sejak pertama kali diumumkan.




Leave a Reply