SandeKennedy –Belum genap satu bulan sejak gelombang restrukturisasi sebelumnya diumumkan, Ubisoft kembali mengambil langkah besar yang mengguncang industri. Perusahaan secara resmi mengonfirmasi pembatalan enam proyek game yang sedang dikembangkan, termasuk Prince of Persia: The Sands of Time Remake. Serta menunda sejumlah proyek lain yang belum diumumkan ke publik. Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa Ubisoft tengah berada dalam fase penataan ulang internal yang sangat agresif dan berdampak langsung pada portofolio game mereka ke depan.
“Baca Juga: TikTok Dirikan USDS untuk Amankan Operasi di AS”
Dalam pernyataan resminya, Ubisoft menyebut bahwa perubahan ini merupakan bagian dari restrukturisasi menyeluruh yang menyasar struktur organisasi, alur pengembangan. Hingga fokus bisnis jangka menengah dan panjang. Pembatalan proyek dan penundaan pengembangan disebut sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari evaluasi internal yang dilakukan perusahaan sejak akhir 2025.
Penutupan Studio dan Alasan Bisnis di Baliknya
Sebagai bagian dari restrukturisasi tersebut, Ubisoft memastikan bahwa Ubisoft Stockholm dan Ubisoft Halifax akan ditutup secara permanen. Penutupan dua studio ini mempertegas keseriusan Ubisoft dalam memangkas biaya operasional dan merampingkan struktur pengembangan globalnya.
Dalam wawancara dengan IGN, CFO Ubisoft Frederick Duguet menjelaskan bahwa kondisi pasar game global menjadi faktor utama di balik keputusan ini. Menurutnya, industri game saat ini berada dalam situasi yang jauh lebih kompetitif dan selektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ubisoft mengaku telah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap seluruh proyek selama periode Desember dan Januari. Dengan mempertimbangkan perubahan pola konsumsi pemain serta meningkatnya persaingan antar penerbit besar.
Duguet menekankan bahwa kuartal terakhir menunjukkan tingkat kompetisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi tersebut memaksa Ubisoft untuk mengambil keputusan sulit, termasuk menghentikan proyek-proyek yang dinilai tidak lagi selaras dengan strategi bisnis baru perusahaan atau memiliki risiko finansial terlalu besar.
Prince of Persia Remake Jadi Korban Terbesar
Dari enam proyek yang dibatalkan, Prince of Persia: The Sands of Time Remake menjadi nama paling menonjol dan paling disorot publik. Proyek remake ini telah dikembangkan sejak 2020 dan beberapa kali mengalami penundaan akibat pergantian tim serta perubahan arah pengembangan. Dengan keputusan terbaru ini, Ubisoft memastikan bahwa pengembangan remake tersebut resmi dihentikan sepenuhnya.
Selain remake Prince of Persia, Ubisoft tidak merinci secara detail lima proyek lain yang turut dibatalkan. Namun, perusahaan mengonfirmasi bahwa tiga di antaranya merupakan IP baru yang belum pernah diumumkan, sementara satu proyek lainnya adalah game mobile. Informasi ini memperlihatkan bahwa pembatalan tidak hanya menyasar proyek besar yang sudah dikenal, tetapi juga inisiatif baru yang dinilai tidak memenuhi standar kualitas maupun prospek bisnis perusahaan.
Keputusan ini sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan IP klasik Ubisoft lainnya, terutama yang berada di bawah payung pengembangan serupa dengan Prince of Persia.
Penundaan Proyek dan Spekulasi Judul Besar
Selain pembatalan, Ubisoft juga mengonfirmasi bahwa tujuh proyek lain mengalami penundaan akibat restrukturisasi dan perubahan arah strategi. Hingga saat ini, perusahaan belum mengungkap judul-judul apa saja yang terdampak penundaan tersebut. Ketertutupan ini memicu berbagai spekulasi di kalangan komunitas dan pengamat industri.
Salah satu rumor yang kembali menguat adalah terkait Assassin’s Creed IV: Black Flag versi remaster atau remake. Proyek yang belum pernah diumumkan secara resmi ini disebut-sebut sedang dalam tahap pengembangan internal. Namun, dengan adanya pembatalan dan penundaan besar-besaran, muncul kekhawatiran bahwa proyek tersebut juga berpotensi terdampak oleh restrukturisasi yang sedang berlangsung.
Ubisoft belum memberikan klarifikasi terkait rumor tersebut. Namun, ketidakpastian ini menunjukkan bahwa perubahan strategi perusahaan berpotensi memengaruhi hampir seluruh lini proyek, termasuk judul-judul besar yang selama ini menjadi andalan.
“Baca Juga: Samsung Siapkan Teknologi Privacy Display Lebih Canggih”
Pembagian Creative House dan Arah Baru Ubisoft
Sebagai bagian dari restrukturisasi, Ubisoft juga memaparkan pembagian ulang unit pengembangan global mereka ke dalam lima Creative House. Setiap Creative House akan menangani kelompok IP tertentu, dengan tujuan meningkatkan efisiensi, fokus kreatif, dan konsistensi kualitas. Pembagian ini mencakup IP besar seperti Assassin’s Creed, Far Cry, Rainbow Six, The Division, hingga Prince of Persia dan Rayman.
Langkah ini menegaskan arah baru Ubisoft yang semakin fokus pada game open-world berskala besar dan model layanan live-service. Dua pendekatan tersebut dinilai lebih berkelanjutan secara bisnis, meskipun juga memiliki risiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Restrukturisasi ini menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam sejarah Ubisoft sebagai penerbit global.
Dampak nyata dari kebijakan ini terhadap kualitas game dan ragam proyek yang dirilis kemungkinan baru akan terasa dalam satu hingga dua tahun fiskal ke depan. Bagi Ubisoft, periode ini menjadi fase krusial untuk membuktikan bahwa keputusan drastis yang diambil mampu mengembalikan stabilitas finansial dan kepercayaan pasar di tengah persaingan industri game yang semakin ketat.




Leave a Reply